Musim hujan di wilayah Mbojo—Bima, Nusa Tenggara Barat—selalu membawa harapan baru bagi para petani. Tanah yang sebelumnya kering mulai menyerap air, dan ladang-ladang kembali dipersiapkan untuk kehidupan baru. Di tengah suasana itu, masyarakat Bima memiliki sebuah tradisi yang sarat makna sosial dan budaya: Sagele.
Sagele adalah tradisi menanam benih padi, kacang atau jagung yang dilakukan secara gotong royong oleh para perempuan, terutama ibu-ibu, di ladang-ladang pertanian saat musim hujan tiba. Kegiatan ini bukan sekadar proses bercocok tanam. Ia adalah sebuah peristiwa sosial yang merayakan kebersamaan, rasa syukur, dan hubungan manusia dengan alam. Dalam praktiknya, Sagele dilakukan dengan cara yang khas: para perempuan menanam benih secara serempak sambil diiringi musik tradisional seperti silu, biola, atau gambo, serta lantunan nyanyian yang dalam bahasa lokal disebut nggahi.
Suasana Sagele biasanya penuh keceriaan. Para perempuan berdiri berjejer di ladang yang telah disiapkan. Dengan gerakan yang ritmis dan selaras, mereka menanam benih satu demi satu ke dalam tanah yang lembap. Di sela-sela gerakan itu, alunan musik tradisional mengalir lembut, sementara nyanyian nggahi menjadi ekspresi rasa syukur atas datangnya musim tanam. Irama musik dan gerakan menanam menciptakan harmoni yang unik—seolah-olah alam, manusia, dan budaya sedang menari bersama.
Tradisi ini banyak dijumpai di wilayah Kabupaten Bima, sebuah kawasan yang sejak lama dikenal sebagai daerah agraris. Dalam kehidupan masyarakat Mbojo, pertanian bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga bagian dari identitas budaya. Karena itu, kegiatan menanam benih tidak pernah dipandang sebagai pekerjaan teknis semata. Ia selalu disertai makna sosial, spiritual, dan kebersamaan.
Dalam perspektif antropologi, tradisi seperti Sagele dapat dipahami sebagai bentuk ritual agraris—yakni praktik budaya yang menghubungkan manusia dengan siklus alam dan kehidupan kolektif komunitas. Antropolog terkenal Clifford Geertz pernah menjelaskan bahwa praktik-praktik budaya dalam masyarakat tradisional sering kali berfungsi sebagai sistem simbol yang memberi makna pada kehidupan sosial. Dalam pandangan Geertz, ritual tidak hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga membentuk cara masyarakat memahami dunia.
Jika menggunakan kerangka tersebut, Sagele dapat dipahami sebagai simbol kebersamaan masyarakat Mbojo dalam menghadapi siklus kehidupan agraris. Gerakan menanam yang dilakukan secara serempak melambangkan kerja kolektif, sementara musik dan nyanyian menjadi bahasa budaya yang memperkuat rasa solidaritas.
Sagele juga menunjukkan bagaimana masyarakat memaknai kerja bukan hanya sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai pengalaman sosial. Dalam konteks ini, kerja di ladang berubah menjadi ruang interaksi, pertemuan, dan kebersamaan.
Sosiolog Émile Durkheim pernah menyebut bahwa aktivitas kolektif dalam masyarakat tradisional sering menghasilkan apa yang ia sebut collective effervescence—perasaan kebersamaan yang muncul ketika orang-orang berkumpul dan melakukan aktivitas secara bersama. Dalam Sagele, perasaan itu terlihat jelas: musik, nyanyian, dan gerakan menanam menciptakan energi sosial yang memperkuat hubungan antaranggota komunitas.
Di balik praktik Sagele, masyarakat Mbojo juga memegang teguh prinsip budaya yang dikenal sebagai maja labo dahu—sebuah falsafah hidup yang menekankan rasa malu dan takut melakukan hal yang tidak pantas. Nilai ini menjadi fondasi moral dalam kehidupan sosial masyarakat Bima. Dalam konteks Sagele, prinsip tersebut tercermin dalam semangat saling membantu dan menghargai kerja kolektif.
Selain itu, masyarakat Mbojo memiliki banyak ungkapan lokal yang menekankan pentingnya kebersamaan. Salah satunya adalah “dou mbojo sama-sama dou”, yang secara sederhana dapat dimaknai bahwa manusia Mbojo hidup bersama manusia lain. Ungkapan ini menggambarkan cara pandang komunitas terhadap kehidupan sosial: identitas seseorang selalu terikat dengan komunitasnya.
Tradisi Sagele juga dapat dibaca dalam cahaya nilai-nilai religius. Dalam Islam, kerja bersama dan saling membantu merupakan bagian penting dari kehidupan sosial. Al-Qur’an mengingatkan manusia untuk membangun kerja sama dalam kebaikan sebagaimana disebutkan dalam Al-Ma'idah 5:2, yang menyerukan agar manusia saling tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.
….وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ ….
….Dan bekerjasamalah dalam kebaikan dan takwa, tetapi janganlah bekerjasama dalam dosa dan permusuhan.….
Jika dibaca dengan pendekatan hermeneutika—yakni pendekatan yang berusaha memahami pesan teks dalam konteks kehidupan—ayat ini memiliki resonansi yang kuat dengan praktik Sagele. Tradisi menanam secara bersama-sama mencerminkan semangat kerja kolektif yang dianjurkan dalam nilai-nilai keagamaan.
Dengan kata lain, Sagele tidak hanya menjadi praktik budaya, tetapi juga bentuk konkret dari nilai kebersamaan yang diajarkan agama. Tradisi lokal dan pesan religius bertemu dalam satu ruang kehidupan masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, tradisi seperti Sagele menjadi semakin berharga. Modernisasi sering kali membawa perubahan dalam pola kerja pertanian. Mesin dan teknologi menggantikan banyak pekerjaan manual. Namun, di balik kemajuan itu, ada satu hal yang sering berkurang: ruang kebersamaan.
Sagele mengingatkan bahwa pertanian bukan hanya soal produksi pangan, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan manusia lain. Ia mengajarkan bahwa kerja kolektif dapat menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas sosial.
Dalam konteks yang lebih luas, tradisi ini juga menunjukkan bagaimana kebudayaan lokal menyimpan kearifan yang relevan untuk kehidupan modern. Di tengah dunia yang semakin individualistik, Sagele menghadirkan pelajaran sederhana namun mendalam: bahwa kebersamaan dapat membuat pekerjaan terasa lebih ringan dan kehidupan terasa lebih bermakna.
Di ladang-ladang Mbojo, ketika musik silu dan gambo mengalun, ketika nyanyian nggahi terdengar di antara barisan para penanam benih, masyarakat sebenarnya sedang merawat sesuatu yang lebih dari sekadar tanaman. Mereka sedang merawat ingatan kolektif, menjaga harmoni sosial, dan merayakan kehidupan bersama.
Dan di situlah Sagele menemukan makna terdalamnya—sebagai tradisi yang bukan hanya menumbuhkan padi, kacang atau jagung di tanah, tetapi juga menumbuhkan kebersamaan di hati manusia […]